EDUKASI FARMASI UNTUK MASYARAKAT

Efek Samping Wegovy (Semaglutide) yang Jarang Dibahas

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
May 15, 2026 5 min read
Efek Samping Wegovy (Semaglutide) yang Jarang Dibahas
Photo by Unsplash

"Di balik viralnya Wegovy® dan semaglutide sebagai obat penurun berat badan, terdapat efek samping yang jarang dibahas di media sosial. Mulai dari mual..."

Efek Samping Wegovy (Semaglutide) yang Jarang Dibahas

      Popularitas Ozempic dan Wegovy meningkat sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Di media sosial, obat ini sering disebut sebagai “obat kurus” yang mampu menurunkan berat badan secara signifikan dalam waktu relatif singkat. Banyak konten di internet menampilkan foto before-after yang mengesankan, testimoni penurunan berat badan drastis, hingga pengalaman selebriti yang diduga menggunakan semaglutide. Namun, di balik popularitas tersebut, masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa obat ini tetap memiliki efek samping dan risiko medis yang perlu diperhatikan.

      Sebagian besar pembahasan di media sosial hanya berfokus pada keberhasilan menurunkan berat badan, sementara efek sampingnya sering kali hanya disebut sekilas atau bahkan diabaikan. Padahal, seperti obat lain, semaglutide tetap dapat menimbulkan efek yang ringan hingga serius, terutama bila digunakan tanpa pengawasan tenaga kesehatan. Artikel ini akan membahas beberapa efek samping Ozempic dan semaglutide yang jarang dibahas, mulai dari mual, gastroparesis, kehilangan massa otot, risiko pankreatitis, hingga bahaya penggunaan tanpa dokter.

Mengapa Semaglutide Bisa Menimbulkan Efek Samping?

      Semaglutide bekerja dengan meniru hormon alami tubuh bernama GLP-1 (glucagon-like peptide-1). Hormon ini membantu mengatur:

  • rasa kenyang, 
  • pelepasan insulin, 
  • pengosongan lambung, 
  • dan metabolisme gula darah. 

Karena obat ini memengaruhi berbagai sistem tubuh sekaligus, efek samping yang muncul juga dapat melibatkan:

  • saluran pencernaan, 
  • metabolisme, 
  • hingga organ tertentu seperti pankreas. 

      Mekanisme kerja lengkap obat ini telah dibahas pada artikel terkait berjudul “Mengapa Obat Diabetes Bisa Menurunkan Berat Badan?”

Mual: Efek Samping yang Paling Sering Terjadi

      Efek samping yang paling umum pada penggunaan semaglutide adalah mual. Banyak pengguna mengalami:

  • rasa penuh di lambung, 
  • cepat kenyang, 
  • mual setelah makan, 
  • bahkan muntah pada awal terapi. 

      Mengapa hal di atas terjadi? Semaglutide memperlambat pengosongan lambung sehingga makanan bertahan lebih lama di saluran cerna. Akibatnya, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Pada sebagian pasien, efek ini justru dianggap “tanda obat bekerja” karena nafsu makan menjadi berkurang. Namun bila terlalu berat, kondisi ini dapat menyebabkan:

  • dehidrasi, 
  • gangguan makan, 
  • hingga penurunan kualitas hidup. 

Karena itu, dosis semaglutide biasanya dinaikkan secara bertahap (dose escalation) agar tubuh dapat beradaptasi lebih baik.

Gastroparesis: Saat Lambung Menjadi Terlalu Lambat

      Salah satu efek samping yang mulai banyak diperbincangkan adalah gastroparesis. Gastroparesis adalah kondisi ketika pengosongan lambung berlangsung sangat lambat tanpa adanya sumbatan fisik.

Gejalanya dapat berupa:

  • mual berat, 
  • muntah berulang, 
  • perut terasa penuh terus-menerus, 
  • cepat kenyang, 
  • kembung, 
  • dan nyeri perut. 

Karena semaglutide memang bekerja memperlambat pengosongan lambung, beberapa ahli mulai mengkhawatirkan kemungkinan peningkatan risiko gangguan ini pada sebagian pengguna. Walaupun tidak semua pengguna akan mengalami gastroparesis, risiko ini penting dipahami terutama pada individu yang:

  • memiliki gangguan lambung sebelumnya, 
  • diabetes jangka panjang, 
  • atau menggunakan dosis tinggi. 

      Dalam beberapa laporan kasus, gejala dapat membaik setelah obat dihentikan. Namun pada kondisi tertentu, gangguan dapat berlangsung cukup lama.

Hal inilah yang sering tidak dijelaskan dalam konten media sosial yang hanya menampilkan hasil penurunan berat badan.

Kehilangan Massa Otot: Berat Turun Tidak Selalu Berarti Sehat

     Banyak orang berfokus pada angka timbangan yang turun, tetapi jarang memperhatikan komposisi tubuh yang berubah. Saat berat badan turun dengan cepat, tubuh tidak hanya kehilangan lemak, tetapi juga dapat kehilangan massa otot (lean body mass). Kondisi ini penting diperhatikan karena otot memiliki fungsi vital dalam:

  • kekuatan tubuh, 
  • metabolisme, 
  • keseimbangan, 
  • dan kesehatan jangka panjang. 

      Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebagian penurunan berat badan pada penggunaan semaglutide berasal dari kehilangan massa otot. Risiko ini dapat meningkat bila:

  • asupan protein tidak mencukupi, 
  • aktivitas fisik rendah, 
  • atau penurunan berat badan terjadi terlalu cepat. 

Akibatnya, seseorang mungkin tampak lebih kurus tetapi sebenarnya mengalami:

  • tubuh lemah, 
  • mudah lelah, 
  • penurunan kebugaran, 
  • hingga metabolisme yang menjadi lebih rendah. 

Karena itu, terapi penurunan berat badan idealnya tetap disertai:

  • pola makan seimbang, 
  • cukup protein, 
  • dan latihan kekuatan (strength training). 

Pankreatitis: Risiko yang Jarang tetapi Serius

      Efek samping lain yang cukup menjadi perhatian adalah pankreatitis atau peradangan pankreas.

Pankreas merupakan organ penting yang berfungsi menghasilkan:

  • insulin, 
  • serta enzim pencernaan. 

Gejala pankreatitis dapat berupa:

  • nyeri perut hebat, 
  • mual, 
  • muntah, 
  • dan nyeri yang menjalar ke punggung. 

Hubungan antara GLP-1 agonist dan pankreatitis masih terus diteliti. Beberapa studi menunjukkan risikonya relatif rendah, tetapi laporan kasus tetap ada sehingga peringatan kehati-hatian masih diberikan. Karena itu, pasien dengan riwayat pankreatitis biasanya memerlukan evaluasi khusus sebelum menggunakan obat ini. Jika selama terapi muncul:

  • nyeri perut hebat, 
  • muntah terus-menerus, 
  • atau gejala yang tidak biasa, maka pasien harus segera mencari pertolongan medis. 

Risiko Penggunaan Tanpa Dokter

      Salah satu masalah terbesar dari viralnya semaglutide adalah meningkatnya penggunaan tanpa pengawasan tenaga kesehatan.

Saat ini tidak sulit menemukan:

  • penjualan online, 
  • promosi media sosial, 
  • bahkan penggunaan berdasarkan rekomendasi teman atau influencer. 

Padahal, penggunaan semaglutide tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada beberapa alasan mengapa pengawasan dokter sangat penting.

1. Tidak Semua Orang Cocok Menggunakan Semaglutide

Obat ini tidak dianjurkan pada beberapa kondisi tertentu, misalnya:

  • kehamilan, 
  • menyusui, 
  • riwayat gangguan lambung berat, 
  • pankreatitis, 
  • dan beberapa jenis kanker tertentu. 

Tanpa evaluasi medis, risiko komplikasi dapat meningkat.

2. Dosis Harus Dinaikkan Bertahap

Semaglutide tidak langsung diberikan dalam dosis tinggi.

Terapi biasanya dimulai dari dosis rendah lalu ditingkatkan perlahan untuk mengurangi efek samping.

Penggunaan dosis terlalu tinggi secara mendadak dapat menyebabkan:

  • mual berat, 
  • muntah hebat, 
  • dehidrasi, 
  • bahkan perawatan di rumah sakit. 

3. Risiko Produk Palsu dan Penyalahgunaan

      Karena tingginya permintaan, muncul pula risiko:

  • produk palsu, 
  • produk ilegal, 
  • atau penyimpanan obat yang tidak sesuai. 

Hal ini sangat berbahaya karena obat injeksi memerlukan standar kualitas dan penyimpanan tertentu.

Miskonsepsi yang Sering Beredar 

·       “Kalau mual berarti obatnya bagus”. Tidak selalu. Mual ringan memang cukup umum, tetapi mual berat hingga tidak bisa makan bukan kondisi yang boleh dianggap normal.

·       “Semakin cepat kurus semakin baik”. Penurunan berat badan terlalu cepat justru dapat meningkatkan risiko kehilangan massa otot dan batu empedu.

·       “Obat ini aman karena dipakai banyak artis”. Popularitas tidak sama dengan keamanan. Setiap obat tetap memiliki risiko dan indikasi medis tertentu.

·       “Kalau sudah kurus, obat bisa langsung dihentikan”. Pada sebagian orang, penghentian terapi dapat menyebabkan berat badan naik kembali bila tidak disertai perubahan gaya hidup.

Mengapa Edukasi Mengenai Efek Samping Sangat Penting?

Obesitas memang merupakan masalah kesehatan serius, dan kehadiran terapi seperti semaglutide memberikan harapan baru bagi banyak pasien.

Namun, edukasi yang tidak seimbang dapat membuat masyarakat hanya melihat manfaat tanpa memahami risikonya.

Mahasiswa kesehatan dan tenaga kefarmasian memiliki peran penting untuk:

  • memberikan informasi berbasis bukti, 
  • meluruskan miskonsepsi, 
  • serta mendorong penggunaan obat yang rasional dan aman. 

Artikel pilar “Obat Penurun Berat Badan yang Sedang Viral: Aman atau Berbahaya?” membahas lebih luas mengenai manfaat, indikasi, dan kontroversi penggunaan obat ini.

Kesimpulan

      Semaglutide dan obat seperti Ozempic maupun Wegovy memang terbukti membantu menurunkan berat badan dan memperbaiki kontrol metabolik. Namun, di balik popularitasnya, terdapat berbagai efek samping yang perlu dipahami dengan baik. Efek samping seperti mual, gastroparesis, kehilangan massa otot, hingga risiko pankreatitis menunjukkan bahwa obat ini bukan sekadar “obat kurus biasa”.

      Penggunaan tanpa pengawasan tenaga kesehatan dapat meningkatkan risiko komplikasi dan penyalahgunaan. Karena itu, edukasi berbasis bukti ilmiah sangat penting agar masyarakat dapat memahami manfaat sekaligus keterbatasan terapi ini secara lebih rasional.

Rujukan

1.     Wilding JPH, et al. Once-Weekly Semaglutide in Adults with Overweight or Obesity. New England Journal of Medicine. 2021;384:989–1002. DOI: 10.1056/NEJMoa2032183. 

2.     Kushner RF, et al. Semaglutide 2.4 mg for the Treatment of Obesity: Key Elements of the STEP Trials. Obesity. 2020;28(6):1050–1061. DOI: 10.1002/oby.22794. 

3.     Singh S, et al. Glucagon-like peptide 1-based therapies and risk of hospitalization for acute pancreatitis in type 2 diabetes mellitus. JAMA Internal Medicine. 2013;173(7):534–539. DOI: 10.1001/jamainternmed.2013.2720. 

4.     Mayo Clinic – Semaglutide Side Effects