UMUM & POPULER

The Song of the Cell (edisi Indonesia: SEL)

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
February 27, 2026 5 min read
The Song of the Cell (edisi Indonesia: SEL)
Photo by Unsplash

"Info/Ringkasan Buku"

                                 Buku The Song of the Cell (edisi Indonesia: SEL)

                                                          Siddhartha Mukherjee

      Buku berjudul SEL karya Siddhartha Mukherjee merupakan eksplorasi menyeluruh tentang sel sebagai satuan dasar kehidupan, yang telah merevolusi ilmu kedokteran dan cara kita memahami kesehatan dan penyakit. Mukherjee membuka buku ini dengan mengisahkan sejarah penemuan sel pada abad ke-17 melalui mikroskop karya Hooke dan Leeuwenhoek. Dari sana, ia menunjukkan bagaimana sel menjadi kunci dalam memahami struktur dan fungsi organisme, serta memicu perkembangan teori penyakit yang berfokus pada tingkat  seluler. Konsep penting yang ditanamkan adalah bahwa penyakit pada hakikatnya merupakan kelainan atau kerusakan fungsi sel dan komunikasi antar sel, sehingga strategi terapeutik yang efektif pun harus diarahkan pada perbaikan pada tingkat seluler.

      Mukherjee kemudian menggali revolusi besar berikutnya: bagaimana manusia belajar memanipulasi sel untuk tujuan terapi. Ia membahas kemajuan dalam bidang hematologi, imunologi, dan onkologi, dengan contoh konkret seperti transplantasi sel punca, terapi CAR-T untuk kanker darah, dan terapi berbasis sel dalam autoimunitas. Bagi praktisi kesehatan, bagian ini sangat relevan karena menunjukkan bagaimana pemahaman tentang diferensiasi, proliferasi, dan kemampuan regeneratif sel membuka jalan bagi pengobatan yang lebih presisi. Ia juga menyoroti pentingnya mengenali sinyal-sinyal seluler dalam mikrolingkungan jaringan dan perannya dalam mempertahankan homeostasis serta memunculkan patologi bila terganggu.

      Chimeric Antigen Receptor T-cell therapy (CAR-T), yaitu salah satu bentuk terapi kanker berbasis sel imun pasien sendiri yang prinsip dasarnya adalah:

·       Sel T pasien diambil dari darah, kemudian dimodifikasi di laboratorium dengan memasukkan gen yang membuat sel T tersebut mengekspresikan reseptor sintetis yang disebut chimeric antigen receptor (CAR).

·       Reseptor CAR ini dirancang untuk mengenali antigen tertentu pada permukaan sel kanker (misalnya, CD19 pada sel B pada leukemia limfoblastik akut atau limfoma).

·       Setelah dimodifikasi, sel T dengan CAR diperbanyak di luar tubuh dan kemudian diinfuskan kembali ke pasien.

·       Sel T ini kemudian bekerja seperti "pembunuh yang diprogram," mengenali sel kanker yang membawa antigen target dan menghancurkannya.

Dalam konteks kanker darah seperti leukemia dan limfoma, terapi CAR-T telah terbukti sangat efektif pada pasien dengan penyakit yang refrakter atau kambuh setelah terapi standar. Namun, terapi ini juga membawa risiko yang harus diwaspadai, seperti cytokine release syndrome (CRS), neurotoksisitas, dan imunosupresi jangka panjang.

      Mukherjee mengangkat terapi CAR-T sebagai contoh nyata bagaimana pemahaman dan manipulasi sel dapat digunakan untuk "melatih" sistem imun pasien sendiri menjadi obat. Bagi praktisi kesehatan, ini menandai era baru terapi individual berbasis biologi sel, yang memerlukan koordinasi ketat antara onkolog, hematolog, imunolog, serta fasilitas laboratorium berstandar tinggi.

      Selanjutnya, Mukherjee membawa pembaca ke tantangan etika dan biologis dalam terapi berbasis sel. Ia mengingatkan bahwa intervensi seluler bukan tanpa risiko,  mulai dari potensi imunosupresi, kegagalan engraftment, hingga risiko onkogenisitas. Namun, di sisi lain, penulis juga menyampaikan harapan besar pada teknologi editing gen berbasis CRISPR dan teknik rekayasa sel lain yang kian canggih. Ini menjadi pengingat bagi tenaga kesehatan untuk tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memahami prinsip ilmiah dan etika yang mendasarinya untuk bisa memberikan edukasi yang tepat kepada pasien.

      Mukherjee juga menekankan pentingnya komunikasi dan interaksi antar sel sebagai fondasi kesehatan sistemik. Dalam banyak penyakit, misalnya kanker, fibrosis, atau neurodegenerasi, bukan hanya kerusakan pada sel itu sendiri yang penting, tetapi juga gangguan pada "orchestra" komunikasi sel dengan sel di sekitarnya. Oleh karena itu, terapi modern tidak lagi hanya bertujuan memperbaiki atau mengganti sel yang sakit, tetapi juga memodulasi sinyal antar sel agar kembali ke pola sehat.

      Di bagian akhir, Mukherjee mendorong kita untuk melihat ke masa depan pengobatan: sebuah era yang disebutnya sebagai “medisin seluler,” di mana perawatan akan lebih personal, regeneratif, dan preventif. Ia optimis bahwa dengan pemahaman yang lebih baik tentang biologi sel dan kemampuan untuk mengarahkan perilaku sel secara tepat, kita akan mampu merancang terapi untuk penyakit-penyakit yang selama ini sulit ditangani. Bagi praktisi kesehatan, ini adalah ajakan untuk terus memperbarui ilmu, bersiap menghadapi paradigma baru, dan berperan aktif dalam menjembatani sains mutakhir dengan praktik klinis yang aman dan efektif. Buku ini nampaknya seiring dengan cita-cita usia Panjang yang produktif dan Bahagia, sebagaimana bukunya Peter Attia yang berjudul, Outlive.