Edukasi Farmasi & Kesehatan

Mulai Insulin Berarti Diabetes Sudah Parah? Meluruskan Mitos tentang Terapi Insulin

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
October 10, 2026 • 5 min read
Mulai Insulin Berarti Diabetes Sudah Parah? Meluruskan Mitos tentang Terapi Insulin
Photo by Unsplash

"Apakah mulai suntik insulin berarti diabetes sudah parah, obat tablet tidak lagi bekerja, atau pasien akan mengalami ketergantungan? Berbagai mitos te..."

Mulai Insulin Berarti Diabetes Sudah Parah? Meluruskan Mitos tentang Terapi Insulin

      Dokter menyarankan saya mulai suntik insulin. Apakah berarti diabetes saya sudah parah? Kekhawatiran seperti ini cukup mudah dijumpai pada pasien diabetes. Sebagian orang bahkan berusaha menunda insulin karena menganggap suntikan insulin sebagai tanda bahwa obat sebelumnya telah “gagal”, diabetes sudah memasuki tahap akhir, atau tubuh nantinya akan mengalami ketergantungan terhadap insulin.

      Dalam literatur dikenal istilah psychological insulin resistance, yaitu berbagai hambatan psikologis yang menyebabkan seseorang enggan memulai atau melanjutkan terapi insulin. Penyebabnya beragam, mulai dari takut jarum dan hipoglikemia, kekhawatiran terapi akan merepotkan, stigma sosial, hingga anggapan bahwa menggunakan insulin berarti dirinya telah gagal mengendalikan diabetes [1,5].

      Padahal, kebutuhan insulin tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan seberapa “parah” diabetes seseorang. Insulin bukan tanda kegagalan pasien dalam mengelola diabetes. Insulin adalah terapi yang digunakan ketika kebutuhan fisiologis dan kondisi klinis pasien memerlukannya.

Mengapa Tubuh Kita Memerlukan Insulin?

      Untuk memahami mengapa seseorang membutuhkan insulin, kita perlu kembali pada fungsi hormon ini. Setelah makanan dicerna, sebagian karbohidrat akan menghasilkan glukosa yang masuk ke dalam darah. Peningkatan glukosa merangsang sel beta pankreas untuk melepaskan insulin.

      Insulin kemudian berikatan dengan reseptor insulin pada jaringan target dan mengaktifkan rangkaian sinyal intraseluler. Secara sederhana, proses ini membantu tubuh menggunakan dan menyimpan glukosa, termasuk meningkatkan pengambilan glukosa terutama pada otot dan jaringan adiposa serta menekan produksi glukosa oleh hati [2].

      Pada diabetes melitus tipe 1, proses autoimun umumnya merusak sel beta pankreas sehingga terjadi defisiensi insulin absolut atau hampir absolut. Karena itu, insulin merupakan terapi esensial dan diperlukan untuk mempertahankan kehidupan.

      Situasinya berbeda pada diabetes tipe 2. Masalah awalnya sering melibatkan resistensi insulin: jaringan tubuh tidak merespons insulin secara optimal. Sel beta pankreas berusaha mengimbanginya dengan meningkatkan sekresi insulin. Namun, seiring perjalanan penyakit, fungsi sel beta pada banyak pasien dapat semakin menurun sehingga insulin yang diproduksi tubuh tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan. Di sinilah kita dapat mulai memahami mengapa beberapa anggapan tentang insulin sebenarnya kurang tepat.

MITOS 1 — “Mulai Insulin Berarti Diabetes Sudah Parah”

      Tidak selalu. Pada diabetes tipe 2, insulin dapat digunakan karena berbagai alasan. Insulin dapat dipertimbangkan ketika terjadi hiperglikemia yang sangat tinggi atau menimbulkan gejala, ketika target glikemik belum tercapai dengan terapi lain, atau pada kondisi tertentu ketika tubuh membutuhkan pengendalian glukosa yang lebih cepat dan dapat diprediksi [2].

      Insulin juga dapat digunakan dalam situasi klinis tertentu, misalnya selama penyakit akut atau periode perioperatif, ketika kebutuhan insulin dapat berubah. Pada sebagian keadaan penggunaannya dapat bersifat sementara, sedangkan pada kondisi lain diperlukan dalam jangka panjang.

      Pada diabetes tipe 1, persoalannya bahkan lebih jelas: insulin diperlukan karena tubuh kekurangan insulin secara absolut. Jadi penggunaan insulin bukan indikator bahwa pasien “terlambat berobat”. Karena itu, keputusan menggunakan insulin bukan sistem staging untuk menentukan tingkat keparahan diabetes.

      Memang benar bahwa pada sebagian pasien diabetes tipe 2, insulin baru diperlukan setelah penyakit berlangsung cukup lama karena fungsi sel beta semakin menurun. Tetapi urutan tersebut tidak berarti bahwa semua orang yang menggunakan insulin mempunyai penyakit pada “stadium akhir”. Pertanyaan yang lebih tepat bukan “seberapa parah diabetes saya karena harus menggunakan insulin?”, tetapi “mengapa pada kondisi saya sekarang insulin diperlukan?”

MITOS 2 — “Kalau Sudah Pakai Insulin, Berarti Obat Tablet Gagal”

      Anggapan ini juga perlu diluruskan. Diabetes tipe 2 merupakan penyakit yang dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Resistensi insulin dan penurunan fungsi sel beta dapat menyebabkan kebutuhan terapi seseorang hari ini berbeda dari kebutuhannya beberapa tahun kemudian.

      Karena itu, obat yang mampu mengendalikan glukosa pada awal perjalanan penyakit belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan terapi bertahun-tahun kemudian. Hal ini bukan berarti obat sebelumnya “gagal”, terlebih lagi bukan berarti pasien gagal.

      Dalam pengelolaan diabetes modern, pemilihan terapi juga tidak lagi hanya berorientasi pada menurunkan HbA1c. Kondisi kardiovaskular, penyakit ginjal, berat badan, risiko hipoglikemia, efek samping, akses terhadap obat, dan preferensi pasien turut menjadi pertimbangan [2].

      Insulin merupakan salah satu komponen dari berbagai pilihan tersebut. Pada pasien tertentu, insulin dapat digunakan bersama obat diabetes lain dan bukan sekadar sebagai “pilihan terakhir” setelah semua obat dianggap gagal. Perubahan terapi merupakan bagian dari penyesuaian pengobatan terhadap perubahan kondisi pasien.

MITOS 3 — “Kalau Sudah Mulai Insulin, Selamanya Tidak Bisa Berhenti”

      Jawabannya bergantung pada mengapa insulin diberikan. Pada diabetes tipe 1, insulin merupakan terapi yang diperlukan karena tubuh tidak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah yang memadai. Pada diabetes tipe 2, situasinya lebih beragam. Ada pasien yang membutuhkan insulin dalam jangka panjang karena kapasitas sekresi insulin endogennya telah menurun secara bermakna. Namun, insulin juga dapat digunakan dalam keadaan tertentu ketika kebutuhan tubuh meningkat sementara, misalnya selama penyakit akut atau periode hiperglikemia berat.

      Setelah kondisi yang memicu kebutuhan insulin membaik, kebutuhan terapi dapat dievaluasi kembali. Pada sebagian pasien diabetes tipe 2, perubahan berat badan, pola makan, aktivitas fisik, fungsi ginjal, kondisi medis lain, serta penggunaan obat antidiabetes lain juga dapat mengubah kebutuhan insulin. Namun, hal ini bukan berarti setiap pasien yang memulai insulin nantinya dapat menghentikannya.

      Keputusan mengurangi atau menghentikan insulin perlu dilakukan berdasarkan evaluasi glikemik dan kondisi klinis, bukan karena pasien merasa kadar gula darahnya sudah lebih baik lalu menghentikan suntikan sendiri.

MITOS 4 — “Insulin Membuat Ketergantungan”

      Kata “ketergantungan” sering menimbulkan kesan seolah-olah insulin bekerja seperti zat yang menyebabkan adiksi. Padahal, kedua hal tersebut sangat berbeda. Insulin adalah hormon fisiologis yang memang diproduksi tubuh manusia. Pada orang tanpa diabetes, pankreas melepaskan insulin setiap hari untuk mempertahankan homeostasis glukosa.

      Ketika pasien diabetes tipe 1 menggunakan insulin, yang dilakukan pada dasarnya adalah menggantikan hormon yang tidak lagi diproduksi tubuh dalam jumlah memadai. Pada diabetes tipe 2, insulin eksogen dapat diberikan ketika produksi insulin endogen tidak mencukupi kebutuhan klinis, termasuk saat terjadi hiperglikemia berat.

      Hal tersebut tidak sama dengan addiction atau kecanduan, yang melibatkan proses neurobiologis dan perilaku berupa dorongan penggunaan zat secara kompulsif meskipun menimbulkan dampak merugikan. Karena itu, kebutuhan menggunakan insulin dalam jangka panjang bukan bukti bahwa insulin telah membuat seseorang “kecanduan”. Analogi sederhananya: seseorang yang memerlukan kacamata setiap hari tidak menjadi “kecanduan kacamata”. Ia menggunakannya karena fungsi tubuhnya membutuhkan bantuan.

MITOS 5 — “Insulin Bisa Merusak Ginjal”

      Miskonsepsi ini mungkin muncul karena insulin sering mulai digunakan ketika seseorang telah cukup lama mengalami diabetes, dan pada periode yang sama sebagian pasien mulai mengalami gangguan ginjal. Kemudian muncul kesimpulan: mulai insulin → fungsi ginjal menurun → berarti insulin merusak ginjal.

      Padahal, urutan waktu tidak otomatis menunjukkan hubungan sebab-akibat. Diabetes sendiri merupakan salah satu penyebab utama penyakit ginjal kronik. Paparan hiperglikemia dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap kerusakan mikrovaskular pada ginjal. Karena itu, pasien yang telah lama hidup dengan diabetes dapat mengalami penyakit ginjal sekaligus membutuhkan perubahan terapi, termasuk insulin [2,3].

      Justru terdapat hubungan penting dalam arah sebaliknya: fungsi ginjal yang menurun dapat memengaruhi penanganan insulin. Ginjal berperan dalam metabolisme dan clearance insulin. Ketika fungsi ginjal menurun, clearance insulin juga dapat menurun. Selain itu, kemampuan ginjal melakukan glukoneogenesis dapat berkurang. Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat meningkatkan risiko hipoglikemia pada penyakit ginjal kronik [3].

      Artinya, insulin bukan penyebab langsung penyakit ginjal diabetik; sebaliknya, penurunan fungsi ginjal dapat mengubah kebutuhan insulin dan meningkatkan risiko hipoglikemia. Karena itu, dosis dan monitoring perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.

MITOS 6 — “Suntik Insulin Pasti Sakit dan Merepotkan”

      Ketakutan terhadap suntikan merupakan salah satu alasan yang dapat membuat pasien enggan memulai insulin [1]. Namun, perangkat pemberian insulin telah berkembang jauh dibandingkan beberapa dekade lalu. Pena insulin dan jarum berukuran kecil dapat membuat penyuntikan lebih praktis dan bagi sebagian pasien lebih nyaman, walaupun rasa nyeri dan pengalaman setiap orang dapat berbeda. Meski demikian, keberhasilan terapi bukan hanya bergantung pada alat. Teknik penyuntikan yang benar tetap sangat penting.

      Pasien perlu memahami lokasi injeksi subkutan, melakukan rotasi tempat suntikan, serta menghindari penyuntikan berulang pada titik yang sama. Penyuntikan berulang pada area yang sama dapat menyebabkan lipohipertrofi, yaitu penebalan atau pembesaran jaringan lemak subkutan di tempat injeksi. Kondisi ini bukan sekadar masalah kosmetik karena penyerapan insulin dari jaringan lipohipertrofi dapat menjadi tidak konsisten sehingga kontrol glikemik lebih sulit diprediksi [4].

      Konsensus internasional terbaru tahun 2026 bahkan menempatkan kurangnya rotasi lokasi suntikan sebagai faktor risiko lipohipertrofi yang paling penting dan dapat dimodifikasi. Edukasi teknik injeksi karena itu merupakan bagian penting dari terapi insulin [4].

      Teknologi insulin juga terus berkembang. Saat ini telah hadir insulin basal dengan durasi sangat panjang yang memungkinkan pemberian sekali seminggu pada populasi pasien tertentu. Perbedaan insulin mingguan seperti icodec dan efsitora serta perbandingannya dengan insulin harian dibahas secara khusus pada artikel sebelumnya.

Kapan Pasien Sebaiknya Tidak Menunda Insulin?

      Insulin tidak boleh dimulai atau diubah dosisnya sendiri tanpa evaluasi dan instruksi tenaga kesehatan. Namun, sebaliknya, insulin juga tidak seharusnya ditolak atau ditunda hanya karena stigma dan informasi yang keliru. Pada diabetes tipe 2, insulin dapat menjadi penting ketika terdapat hiperglikemia berat, gejala hiperglikemia yang nyata, kondisi katabolik seperti penurunan berat badan yang tidak diinginkan, atau ketika terapi lain belum memberikan kontrol glikemik yang memadai [2].

      Menunda terapi yang memang diperlukan dapat menyebabkan pasien tetap berada dalam kondisi hiperglikemia dan meningkatkan risiko komplikasi. Karena itu, ketika insulin direkomendasikan, diskusi dengan dokter, apoteker, atau tenaga kesehatan sebaiknya berfokus pada pertanyaan yang lebih bermanfaat: mengapa insulin diperlukan, apa target terapinya, bagaimana cara menggunakannya dengan benar, bagaimana mengenali dan menangani hipoglikemia, serta bagaimana melakukan monitoring.

Kesimpulan

      Memerlukan insulin bukan berarti pasien gagal mengelola diabetes, bukan berarti “kecanduan insulin”, dan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa diabetes telah mencapai stadium akhir. Insulin merupakan hormon fisiologis yang dibutuhkan tubuh dan digunakan sebagai terapi ketika kondisi klinis memang memerlukannya. Pada sebagian pasien insulin diperlukan seumur hidup, sementara pada kondisi lain kebutuhannya dapat berubah dan dievaluasi kembali. Karena itu, keputusan memulai, menyesuaikan, atau menghentikan insulin sebaiknya didasarkan pada kebutuhan fisiologis, kontrol glikemik, kondisi klinis, serta evaluasi bersama tenaga kesehatan—bukan pada stigma atau ketakutan terhadap suntikan.

Baca juga artikel: 

1.     Insulin Pemberian Seminggu Ada Lebih dari Satu: Apa Beda Icodec dan Efsitora?

2.     Insulin Harian vs Insulin Seminggu Sekali: Apa Bedanya dari Cara Kerja hingga Risiko Hipoglikemia?

Daftar Pustaka

1.     Brod M, Kongsø JH, Lessard S, Christensen TL. Psychological insulin resistance: patient beliefs and implications for diabetes management. Qual Life Res. 2009;18(1):23–32. 

2.     American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes. 9. Pharmacologic approaches to glycemic treatment: Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S183–S215. 

3.     Tuttle KR, Bakris GL, Bilous RW, Chiang JL, de Boer IH, Goldstein-Fuchs J, et al. Diabetic kidney disease: a report from an ADA Consensus Conference. Diabetes Care. 2014;37(10):2864–83. 

4.     Guo L, Klonoff DC, Al Sifri SN, Bee YM, Calliari LE, Chen L, et al. Consensus recommendations on lipohypertrophy: insights from an international panel of experts. Diabetes Res Clin Pract. 2026;239:113401. 2026.113401.

5.     Gherman A, Veresiu IA, Sassu RA, Schnur JB, Scheckner BL, Montgomery GH. Psychological insulin resistance: a critical review of the literature. Pract Diabetes Int. 2011;28(3):125–128d.