"Obesitas bukan sekadar masalah BB. Penumpukan lemak visceral dan resistensi insulin dapat memicu perlemakan hati (fatty liver atau MASLD), bahkan tanp..."
Obesitas Bukan Sekadar Masalah BB: Mengapa Lemak Bisa Menumpuk di Hati?
Obesitas dan Ancaman yang Tidak Terlihat
Ketika mendengar kata obesitas, sebagian orang mungkin langsung membayangkan tubuh yang gemuk, perut membuncit, atau angka timbangan yang terus meningkat. Padahal, obesitas bukan sekadar persoalan penampilan. Di balik penumpukan lemak tubuh, terdapat berbagai perubahan metabolisme yang dapat memengaruhi kesehatan organ-organ penting, termasuk hati atau liver.
Hati merupakan organ yang berperan besar dalam mengatur metabolisme lemak dan gula. Ketika keseimbangan metabolisme terganggu, lemak dapat menumpuk di dalam sel-sel hati dan menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai perlemakan hati (fatty liver).
Penyakit ini sering berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga banyak orang tidak menyadarinya. Obesitas, terutama yang disertai penumpukan lemak di sekitar organ dalam, merupakan salah satu faktor risiko penting. Mengapa kelebihan lemak tubuh dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati? Untuk memahaminya, kita perlu mengenal hubungan antara obesitas, metabolisme lemak, dan kerja hormon insulin.
Obesitas Bukan Sekadar Persoalan Penampilan
Obesitas merupakan kondisi penumpukan lemak tubuh berlebihan yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Dalam praktik sehari-hari, obesitas sering dinilai menggunakan indeks massa tubuh (IMT), yaitu perbandingan berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter.
Namun, IMT memiliki keterbatasan karena tidak dapat membedakan massa otot dan massa lemak serta tidak menunjukkan lokasi penumpukan lemak dalam tubuh. Secara umum, jaringan lemak dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu lemak subkutan dan lemak viseral.
Lemak subkutan berada tepat di bawah kulit, misalnya pada paha, lengan, dan perut. Sementara itu, lemak viseral berada lebih dalam, terutama di sekitar organ-organ dalam rongga perut. Lemak yang menumpuk di dalam sel hati berbeda dari lemak viseral, meskipun keduanya berkaitan secara metabolik. Lemak visceral memiliki aktivitas metabolik yang berkaitan erat dengan resistensi insulin, peradangan kronis tingkat rendah, dan peningkatan risiko penyakit metabolik.
Penumpukan lemak viseral juga berhubungan dengan meningkatnya aliran asam lemak bebas menuju hati. Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan metabolisme lemak dan meningkatkan risiko perlemakan hati [1]. Dengan demikian, dua orang dengan IMT yang sama belum tentu memiliki risiko metabolik yang sama. Distribusi lemak tubuh, terutama penumpukan lemak abdominal, merupakan faktor penting dalam menilai risiko kesehatan.
Mengenal Fungsi Hati dalam Metabolisme Tubuh
Hati merupakan salah satu organ metabolik terpenting dalam tubuh manusia. Organ ini membantu mengatur kadar glukosa darah, mengolah zat gizi, menghasilkan berbagai protein, serta memetabolisme obat dan zat asing yang masuk ke dalam tubuh.
Dalam metabolisme karbohidrat, hati menyimpan kelebihan glukosa dalam bentuk glikogen. Ketika tubuh membutuhkan energi, glikogen dapat dipecah kembali menjadi glukosa untuk membantu mempertahankan kadar gula darah. Hati juga dapat membentuk glukosa dari bahan nonkarbohidrat melalui proses yang disebut glukoneogenesis.
Dalam metabolisme lemak, hati menerima asam lemak dari makanan maupun jaringan adiposa. Asam lemak tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan energi, disimpan sementara sebagai trigliserida, atau dikemas dalam bentuk lipoprotein untuk diedarkan ke jaringan lain. Selain itu, hati berperan dalam metabolisme asam amino, pembentukan urea, dan sintesis berbagai protein plasma.
Pada kondisi normal, terdapat keseimbangan antara lemak yang masuk, dibentuk, digunakan, dan dikeluarkan dari hati. Namun, apabila keseimbangan tersebut terganggu, trigliserida dapat terakumulasi dalam sel hati sehingga menimbulkan perlemakan hati [2].
Mengapa Kelebihan Lemak Tubuh Dapat Menyebabkan Penumpukan Lemak di Hati?
Hubungan antara obesitas dan perlemakan hati terutama melibatkan perubahan metabolisme jaringan adiposa, peningkatan aliran asam lemak bebas, serta pembentukan lemak baru di dalam hati. Jaringan adiposa sebenarnya bukan sekadar tempat penyimpanan energi. Jaringan ini juga berfungsi sebagai organ endokrin yang menghasilkan berbagai hormon dan zat pengatur metabolisme.
Ketika jumlah lemak tubuh meningkat secara berlebihan, terutama pada individu dengan obesitas abdominal, kemampuan jaringan adiposa untuk menyimpan lemak secara sehat dapat terganggu. Akibatnya, lebih banyak asam lemak bebas dilepaskan ke dalam sirkulasi darah dan sebagian dibawa menuju hati.
Di dalam hati, asam lemak tersebut dapat digunakan sebagai sumber energi atau diubah menjadi trigliserida. Apabila jumlahnya melebihi kemampuan hati untuk menggunakan dan mengeluarkannya, lemak mulai menumpuk. Selain berasal dari jaringan adiposa, lemak hati juga dapat terbentuk melalui proses yang disebut de novo lipogenesis, yaitu pembentukan asam lemak baru dari sumber energi nonlemak, terutama karbohidrat. Asupan energi berlebihan, khususnya dalam konteks pola makan tinggi gula tambahan dan karbohidrat olahan, dapat meningkatkan proses pembentukan lemak tersebut.
Penumpukan lemak hati terjadi ketika jumlah asam lemak yang masuk dan dibentuk lebih besar daripada jumlah yang dioksidasi atau dikeluarkan melalui lipoprotein. Pada sebagian individu, gangguan ini dapat disertai stres seluler, peradangan, dan kerusakan jaringan hati [2,3]. Dengan kata lain, obesitas dapat menyebabkan hati menerima dan membentuk lebih banyak lemak daripada yang mampu ditangani secara normal.
Peran Resistensi Insulin dalam Terjadinya Perlemakan Hati
Insulin merupakan hormon yang dihasilkan oleh sel beta pankreas. Hormon ini membantu mengatur kadar glukosa darah dengan meningkatkan penggunaan dan penyimpanan glukosa oleh jaringan tubuh serta menekan produksi glukosa oleh hati. Insulin juga berperan dalam metabolisme lemak, termasuk menghambat pemecahan trigliserida di jaringan adiposa.
Pada kondisi resistensi insulin, respons jaringan tubuh terhadap kerja insulin mengalami penurunan. Akibatnya, tubuh membutuhkan kadar insulin yang lebih tinggi untuk menghasilkan efek metabolik yang sama. Salah satu dampaknya adalah berkurangnya kemampuan insulin untuk menekan pemecahan lemak atau lipolisis di jaringan adiposa. Akibatnya, lebih banyak asam lemak bebas dilepaskan ke dalam darah dan dapat masuk ke hati.
Di sisi lain, pada resistensi insulin, sebagian jalur metabolisme hati yang mendorong pembentukan lemak masih dapat tetap aktif. Keadaan ini dikenal sebagai resistensi insulin selektif. Kombinasi peningkatan aliran asam lemak bebas dan pembentukan lemak baru menyebabkan penumpukan trigliserida di dalam hepatosit, yaitu sel utama penyusun hati.
Penumpukan lemak tersebut dapat memperburuk gangguan metabolisme, sehingga terbentuk hubungan yang saling memengaruhi antara resistensi insulin dan perlemakan hati [2,3]. Mekanisme ini menjelaskan mengapa perlemakan hati sering ditemukan pada individu dengan obesitas abdominal, sindrom metabolik, dan diabetes melitus tipe 2.
Apa Hubungan Obesitas, Diabetes Tipe 2, dan Penyakit Perlemakan Hati?
Obesitas, diabetes melitus tipe 2, dan perlemakan hati memiliki hubungan yang erat karena ketiganya sering melibatkan resistensi insulin dan gangguan metabolisme energi. Obesitas, terutama yang disertai peningkatan lemak viseral, dapat meningkatkan risiko resistensi insulin. Apabila pankreas tidak lagi mampu menghasilkan insulin yang cukup untuk mengimbangi kebutuhan tubuh, kadar glukosa darah dapat meningkat dan berkembang menjadi diabetes tipe 2. Pada saat yang sama, resistensi insulin dapat meningkatkan penumpukan lemak di hati.
Sebaliknya, perlemakan hati juga berkaitan dengan meningkatnya risiko terjadinya diabetes tipe 2 melalui gangguan metabolisme glukosa dan lipid. Hubungan tersebut bersifat dua arah, meskipun tidak berarti bahwa setiap penderita obesitas pasti mengalami diabetes atau perlemakan hati.
Dalam terminologi terbaru, penyakit perlemakan hati yang berkaitan dengan disfungsi metabolik disebut Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD). Istilah MASLD diperkenalkan melalui konsensus internasional pada tahun 2023 untuk menggantikan istilah Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). Diagnosis MASLD memerlukan bukti steatosis hati dan sedikitnya satu faktor risiko kardiometabolik. Konsumsi alkohol perlu dinilai untuk membedakan MASLD dari kategori lain seperti MetALD, dan penyebab steatosis lain tetap harus dievaluasi [4].
Penderita diabetes tipe 2 perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami fibrosis hati lanjut dibandingkan individu tanpa diabetes [5].
Apakah Orang yang Tidak Obesitas Juga Dapat Mengalami Perlemakan Hati?
Meskipun obesitas merupakan faktor risiko penting, perlemakan hati juga dapat terjadi pada individu yang memiliki IMT dalam rentang normal. Kondisi ini dapat disebut MASLD pada individu dengan berat badan normal (lean MASLD), dengan definisi IMT yang perlu disesuaikan dengan populasi. Istilah ini tetap memerlukan bukti steatosis dan faktor risiko kardiometabolik.
Salah satu penjelasannya adalah bahwa IMT tidak selalu menggambarkan jumlah dan distribusi lemak tubuh. Seseorang dapat memiliki berat badan normal, tetapi menyimpan lemak viseral relatif tinggi atau mengalami gangguan metabolisme seperti resistensi insulin dan dislipidemia.
Selain itu, faktor genetik, pola makan, aktivitas fisik, dan karakteristik komposisi tubuh turut memengaruhi risiko penumpukan lemak hati. Beberapa variasi genetik, termasuk pada gen PNPLA3, diketahui berkaitan dengan kerentanan terhadap steatosis hati. Oleh karena itu, berat badan normal tidak selalu menjamin bahwa seseorang terbebas dari gangguan metabolisme atau perlemakan hati [3,5].
Mengapa Menjaga Berat Badan Penting bagi Kesehatan Hati?
Menjaga berat badan yang sehat merupakan salah satu langkah penting untuk mencegah gangguan metabolisme dan menurunkan risiko perlemakan hati. Pada individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas yang telah mengalami MASLD, penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu mengurangi kandungan lemak dalam hati.
Pedoman European Association for the Study of the Live, Study of diabetes, and Study of obesity (EASL–EASD–EASO) 2024 menganjurkan penurunan berat badan berkelanjutan ≥5% untuk mengurangi lemak hati, 7–10% untuk memperbaiki peradangan hati, dan ≥10% untuk memperbaiki fibrosis pada orang dewasa dengan MASLD dan berat badan berlebih. Ini merupakan sasaran terapi, bukan jaminan perbaikan pada setiap individu [5].
Namun, manfaat kesehatan tidak hanya bergantung pada penurunan angka timbangan.
Aktivitas fisik secara teratur dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu mengurangi lemak hati, bahkan ketika penurunan berat badan belum terlalu besar.
Pola makan seimbang, pembatasan minuman berpemanis, pengurangan asupan energi berlebihan, serta peningkatan konsumsi sayuran, buah utuh, dan makanan kaya serat juga mendukung kesehatan metabolik. Pencegahan sebaiknya dilakukan sejak dini dan dipertahankan sebagai kebiasaan jangka panjang.
Penting dipahami bahwa penumpukan lemak hati tidak dapat dipastikan hanya dari obesitas atau hasil pemeriksaan enzim hati. Pada individu berisiko, terutama dengan diabetes tipe 2 atau obesitas disertai faktor metabolik lain, dokter dapat mempertimbangkan penilaian fibrosis secara bertahap, misalnya skor FIB-4 dan elastografi bila diperlukan. Pemeriksaan dan tindak lanjut ditentukan berdasarkan usia, kondisi klinis, serta pedoman yang berlaku [5].
Kesimpulan
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau meningkatnya angka timbangan. Penumpukan lemak tubuh, terutama lemak viseral, dapat mengganggu metabolisme dan meningkatkan risiko perlemakan hati. Resistensi insulin, peningkatan aliran asam lemak bebas, dan pembentukan lemak baru di hati merupakan mekanisme penting yang menghubungkan obesitas dengan penyakit tersebut. Meskipun demikian, perlemakan hati juga dapat terjadi pada individu tanpa obesitas. Karena itu, menjaga kesehatan hati memerlukan perhatian terhadap berat badan, lingkar perut, pola makan, aktivitas fisik, dan kesehatan metabolik secara keseluruhan.
Baca juga artikel: Perlemakan Hati Dapat Terjadi Tanpa Gejala: Kenali Bahaya dan Cara Mencegahnya
Daftar Pustaka
1. Després JP. Body fat distribution and risk of cardiovascular disease: an update. Circulation. 2012;126(10):1301–1313. doi:10.1161/CIRCULATIONAHA.111.067264.
2. Donnelly KL, Smith CI, Schwarzenberg SJ, Jessurun J, Boldt MD, Parks EJ. Sources of fatty acids stored in liver and secreted via lipoproteins in patients with nonalcoholic fatty liver disease. J Clin Invest. 2005;115(5):1343–1351. doi:10.1172/JCI23621.
3. Powell EE, Wong VWS, Rinella M. Non-alcoholic fatty liver disease. Lancet. 2021;397(10290):2212–2224. doi:10.1016/S0140-6736(20)32511-3.
4. Rinella ME, Lazarus JV, Ratziu V, et al. A multisociety Delphi consensus statement on new fatty liver disease nomenclature. Hepatology. 2023;78(6):1966–1986. doi:10.1097/HEP.0000000000000520.
5. European Association for the Study of the Liver (EASL), European Association for the Study of Diabetes (EASD), European Association for the Study of Obesity (EASO). EASL–EASD–EASO Clinical Practice Guidelines on the management of metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD). J Hepatol. 2024;81(3):492–542. doi:10.1016/j.jhep.2024.04.031.