Persiapan Uji Kompetensi

Farmakoterapi Batuk dan Antitusif

By Tim Leskonfi
Journalist
September 14, 2026 • 5 min read
Farmakoterapi Batuk dan Antitusif
Photo by Unsplash

"Seberapa siap Anda menghadapi UKOM Apoteker? Coba 15 latihan soal CBT tentang farmakoterapi batuk dan antitusif, mulai dari dextromethorphan, mukoliti..."

Farmakoterapi Batuk dan Antitusif

Soal 1 — Recall

Seorang pasien mengalami batuk selama 10 hari setelah mengalami infeksi saluran pernapasan atas. Apoteker mengklasifikasikan batuk berdasarkan durasinya. Batuk pasien tersebut termasuk:

 A. Batuk akut
 B. Batuk subakut
 C. Batuk kronis
 D. Batuk persisten
 E. Batuk refrakter

Jawaban: A.  Pembahasan: Batuk diklasifikasikan berdasarkan durasi menjadi akut <3 minggu, subakut 3–8 minggu, dan kronis >8 minggu. 

Soal 2 — Recall

Seorang pasien mengalami batuk kering yang mengganggu tidur dan mendapat dextromethorphan. Mekanisme kerja utama dextromethorphan sebagai antitusif adalah:

 A. Meningkatkan hidrasi mukus sehingga sekret lebih mudah dikeluarkan
 B. Menekan pusat batuk di sistem saraf pusat sehingga refleks batuk berkurang
 C. Memutus ikatan disulfida mukoprotein sehingga viskositas sekret menurun
 D. Menghambat reseptor histamin perifer sehingga produksi sekret berkurang
 E. Merangsang aktivitas silia bronkus sehingga pembersihan mukus meningkat

Jawaban: B.  Pembahasan: Dextromethorphan merupakan antitusif kerja sentral yang menekan refleks batuk. Dextromethorphan juga diklasifikasikan sebagai antitusif untuk batuk kering/nonproduktif. 

Soal 3 — Recall

Seorang pasien dengan batuk produktif dan sputum kental mendapat asetilsistein sebagai mukolitik. Mekanisme kerja asetilsistein yang paling tepat adalah:

 A. Menghambat pusat batuk di medula sehingga frekuensi batuk menurun
 B. Memutus ikatan disulfida mukoprotein sehingga viskositas mukus menurun
 C. Menghambat reseptor H1 sehingga produksi mukus saluran napas berkurang
 D. Merangsang reseptor beta-2 sehingga diameter bronkus mengalami peningkatan
 E. Menghambat sintesis prostaglandin sehingga inflamasi bronkus berkurang

Jawaban: B.  Pembahasan: Asetilsistein (NAC) bekerja dengan memutus ikatan disulfida pada mukoprotein, sehingga viskositas mukus berkurang dan sekret lebih mudah dikeluarkan. Mekanisme ini juga dijelaskan dalam materi. 

Soal 4 — Recall

Seorang pasien mendapat guaifenesin untuk membantu mengatasi batuk berdahak. Efek farmakologis yang diharapkan dari guaifenesin adalah:

 A. Menekan pusat batuk sehingga frekuensi batuk produktif berkurang
 B. Meningkatkan hidrasi sekret sehingga dahak lebih mudah dikeluarkan
 C. Menghambat bronkokonstriksi sehingga diameter bronkus meningkat
 D. Menghambat mediator inflamasi sehingga produksi dahak berhenti
 E. Menghambat reseptor muskarinik sehingga sekresi bronkus berkurang

Jawaban: B. Pembahasan: Guaifenesin merupakan ekspektoran yang digunakan untuk membantu pengeluaran sekret. Berbagai pustka  menjelaskan mekanismenya melalui peningkatan hidrasi sekresi saluran napas sehingga dahak lebih encer dan mudah dikeluarkan. 

Soal 5 — Reasoning

Seorang laki-laki 29 tahun mengalami batuk kering setelah infeksi saluran pernapasan atas. Batuk terutama mengganggu tidur malam. Tidak terdapat sesak, demam tinggi, atau sputum. Jika terapi antitusif memang diperlukan, pilihan yang rasional adalah:

 A. Dextromethorphan untuk membantu menekan refleks batuk yang mengganggu
 B. Asetilsistein untuk memecah mukus dan mengurangi rangsangan pusat batuk
 C. Guaifenesin untuk meningkatkan produksi sekret dan menekan batuk malam
 D. Ambroxol untuk meningkatkan surfaktan dan menghambat refleks batuk sentral
 E. Bromhexine untuk mengurangi viskositas sekret pada batuk tanpa produksi dahak

Jawaban: A.  Pembahasan: Pada batuk kering/nonproduktif yang cukup mengganggu, antitusif dapat dipertimbangkan untuk meredakan gejala. Dextromethorphan dapat dipertimbangkan untuk meredakan batuk kering yang mengganggu pada pasien dewasa tertentu. Namun, manfaat klinis pada batuk akut akibat infeksi saluran napas atas umumnya terbatas, sehingga penggunaannya harus selektif dan mempertimbangkan kondisi pasien serta potensi interaksi obat. 

Soal 6 — Reasoning

Seorang laki-laki 45 tahun mengalami batuk dengan sputum kental yang sulit dikeluarkan. Tidak terdapat sesak atau tanda pneumonia. Pasien meminta obat untuk menghentikan batuk sepenuhnya. Rekomendasi apoteker yang rasional adalah:

 A. Memberikan antitusif dosis tinggi agar refleks batuk produktif berhenti sepenuhnya
 B. Mempertahankan pengeluaran sekret dan mempertimbangkan terapi memobilisasi mukus
 C. Memberikan kodein secara rutin agar produksi sputum dan refleks batuk berkurang
 D. Mengombinasikan dua antitusif kerja sentral agar pengeluaran sekret segera berhenti
 E. Memberikan antihistamin sedatif agar produksi sputum dan aktivitas silia berkurang

Jawaban: B.  Pembahasan: Batuk merupakan mekanisme pertahanan untuk membersihkan sekret dan benda asing. Pada batuk produktif dengan sekret bermakna, supresi batuk yang berlebihan dapat mengganggu pembersihan sekret. Materi juga mengingatkan bahwa penggunaan antitusif pada kondisi yang memerlukan pengeluaran dahak dapat memperburuk keadaan. 

Soal 7 — Reasoning

Seorang perempuan 54 tahun mengalami batuk kering persisten sejak beberapa minggu setelah memulai minum lisinopril. Tidak terdapat demam, sputum, sesak, maupun kelainan radiologi paru. Intervensi yang rasional adalah:

 A. Menambahkan dextromethorphan jangka panjang dan mempertahankan lisinopril
 B. Menambahkan guaifenesin untuk mengurangi akumulasi bradikinin di saluran napas
 C. Mengevaluasi lisinopril sebagai penyebab dan mempertimbangkan penggantian dengan ARB
 D. Menambahkan asetilsistein untuk mengurangi sensitivitas reseptor batuk terhadap bradikinin
 E. Mengganti lisinopril dengan ACE inhibitor lain yang mempunyai waktu paruh lebih pendek

Jawaban: C.  Pembahasan: ACE inhibitor dapat menyebabkan batuk kering, antara lain terkait peningkatan bradikinin. Prinsip farmakoterapi rasional adalah mengatasi penyebab batuk, bukan hanya menekan gejalanya. Bila ACE inhibitor diduga kuat sebagai penyebab dan penggantian diperlukan, ARB dapat dipertimbangkan. 

Soal 8 — Reasoning

Seorang perempuan 30 tahun menggunakan sertraline untuk depresi dan ingin membeli dextromethorphan karena batuk kering. Apoteker melakukan skrining interaksi obat. Masalah terkait obat yang penting diperhatikan adalah:

 A. Kombinasi  meningkatkan aktivitas serotonergik sehingga meningkatkan risiko sindrom serotonin
 B. Kombinasi dapat meningkatkan aktivitas dopaminergik sehingga meningkatkan risiko parkinsonisme
 C. Kombinasi dapat meningkatkan aktivitas kolinergik sehingga meningkatkan risiko bradikardia
 D. Kombinasi dapat menghambat reseptor adrenergik sehingga meningkatkan risiko hipotensi berat
 E. Kombinasi dapat meningkatkan aktivitas GABA sehingga menyebabkan hipoglikemia simptomatik

Jawaban: A.  Pembahasan: Dextromethorphan memiliki aktivitas serotonergik sehingga penggunaannya bersama obat serotonergik seperti SSRI dapat meningkatkan risiko serotonin syndrome, terutama pada paparan/dosis yang tinggi atau kombinasi faktor risiko. Ini merupakan aspek medication review penting bagi apoteker.

Soal 9 — Reasoning

Seorang ibu meminta obat batuk yang mengandung kodein untuk anaknya yang berusia 10 tahun karena batuk malam sangat mengganggu. Tindakan apoteker yang tepat adalah:

 A. Merekomendasikan kodein dengan dosis berdasarkan berat badan karena batuk mengganggu tidur
 B. Merekomendasikan kodein dengan dosis rendah karena efek depresinya minimal pada anak
 C. Tidak merekomendasikan kodein karena risiko depresi napas dan efek serius pada anak
 D. Mengombinasikan kodein dengan dextromethorphan agar dosis masing-masing dapat diturunkan
 E. Mengombinasikan kodein dengan guaifenesin agar risiko depresi napas dapat dicegah

Jawaban: C.  Pembahasan: FDA membatasi obat batuk dan pilek resep yang mengandung kodein atau hidrokodon untuk pasien usia ≥18 tahun karena pada anak dan remaja risiko depresi napas, penyalahgunaan, overdosis, dan kematian lebih besar daripada manfaatnya. Selain kodein di Indonesia termasuk golongan narkotika

Soal 10 — Reasoning

Seorang laki-laki 36 tahun datang dengan batuk akut selama 7 hari setelah mengalami pilek. Sputum berwarna kuning kehijauan, tetapi suhu 36,8°C, frekuensi napas 18 kali/menit, denyut jantung 82 kali/menit, dan pemeriksaan paru tidak menunjukkan kelainan fokal. Pasien meminta antibiotik. Rekomendasi yang tepat adalah:

 A. Memberikan amoksisilin karena warna sputum menunjukkan infeksi bakteri saluran napas
 B. Memberikan azitromisin karena batuk lebih dari lima hari menunjukkan bronkitis bakterial
 C. Tidak merekomendasikan antibiotik rutin dan memberikan terapi simptomatik sesuai kebutuhan
 D. Memberikan sefiksim karena sputum purulen membutuhkan antibiotik spektrum luas
 E. Memberikan doksisiklin karena sputum berwarna merupakan tanda pneumonia bakterial dini

Jawaban: C.  Pembahasan: Warna sputum tidak dapat digunakan sendiri untuk menentukan etiologi bakteri. Pada uncomplicated acute bronchitis, antibiotik rutin tidak direkomendasikan. CDC menekankan evaluasi terutama untuk menyingkirkan pneumonia berdasarkan tanda vital dan pemeriksaan paru. 

Soal 11 — Reasoning

Seorang perempuan 42 tahun mengalami batuk terutama pada malam hari selama 3 bulan. Keluhan disertai rasa panas di dada dan regurgitasi setelah makan. Tidak terdapat demam atau sputum. Pendekatan farmakoterapi yang rasional adalah:

 A. Memberikan dextromethorphan jangka panjang untuk menekan refleks batuk setiap malam
 B. Evaluasi GERD sebagai penyebab dan memberikan terapi sesuai indikasi penyakit dasarnya
 C. Memberikan guaifenesin rutin untuk meningkatkan pengeluaran sekret dari saluran pernapasan
 D. Memberikan kodein setiap malam untuk mencegah aktivasi refleks batuk akibat refluks
 E. Memberikan asetilsistein untuk menurunkan viskositas sekret yang menyebabkan batuk kronis

Jawaban: B.  Pembahasan: Pada batuk kronis, terapi sebaiknya diarahkan pada etiologi, bukan langsung memberikan antitusif jangka panjang. GERD dapat menjadi salah satu penyebab batuk kronis, terutama bila disertai gejala khas seperti heartburn dan regurgitasi. Terapi ditujukan pada penyakit dasarnya, tetapi PPI tidak otomatis efektif pada semua pasien batuk kronis, terutama tanpa bukti refluks yang relevan. 

Soal 12 — Reasoning

Seorang pasien membeli dua obat OTC untuk batuk dan pilek. Produk pertama mengandung dextromethorphan dan guaifenesin, sedangkan produk kedua mengandung dextromethorphan, pseudoefedrin, dan klorfeniramin. Edukasi apoteker yang tepat adalah:

 A. Kedua obat dapat diminum bersama karena komponen ekspektoran dan dekongestan berbeda
 B. Kedua obat sebaiknya digunakan bergantian agar efek dextromethorphan menjadi lebih lama
 C. Hindari penggunaan bersamaan karena terjadi duplikasi dextromethorphan dan risiko efek samping
 D. Kedua obat dapat digunakan bersama bila dosis guaifenesin pada produk pertama dikurangi
 E. Tambahkan antitusif lain agar dosis dextromethorphan dari masing-masing produk dapat dikurangi

Jawaban: C.  Pembahasan: Obat batuk-pilek OTC sering merupakan produk kombinasi. Dalam berbagai Pustaka, menyebutkan  ada obat  kombinasi dextromethorphan, guaifenesin, pseudoefedrin, dan klorfeniramin serta mengingatkan potensi efek samping/interaksi. Apoteker perlu memeriksa seluruh zat aktif untuk mencegah duplikasi dan overdosis.

Soal 13 — Analisis

Seorang laki-laki 63 tahun dengan PPOK datang ke apotek karena batuk berdahak lebih banyak sejak 2 hari. Sputum bertambah kental, pasien tampak sesak, frekuensi napas 26 kali/menit, dan saturasi oksigen 90%. Pasien meminta dextromethorphan agar batuk berhenti. Tindakan apoteker yang tepat adalah:

 A. Memberikan dextromethorphan agar batuk dan kebutuhan oksigen pasien segera berkurang
 B. Memberikan kodein karena efek antitusifnya lebih kuat pada pasien dengan batuk produktif
 C. Merujuk pasien untuk evaluasi eksaserbasi PPOK dan tidak sekadar menekan batuk produktif
 D. Memberikan guaifenesin saja karena peningkatan sputum dapat ditangani secara swamedikasi
 E. Memberikan dextromethorphan dan asetilsistein agar supresi batuk dan mukolisis terjadi bersamaan

Jawaban: C.  Pembahasan: Pasien mempunyai tanda peringatan: peningkatan sesak, takipnea, saturasi 90%, serta perubahan sputum pada PPOK. Prioritas bukan menekan refleks batuk, tetapi mengevaluasi kemungkinan eksaserbasi dan kebutuhan terapi penyakit dasarnya. Pustaka menekankan bahwa terapi PPOK diarahkan pada bronkodilatasi, inflamasi, dan pengelolaan mukus. 

Soal 14 — Analisis

Seorang perempuan 67 tahun menggunakan dextromethorphan untuk batuk kering. Obat rutin pasien adalah fluoxetine. Dua hari kemudian pasien mengalami agitasi, tremor, diaforesis, hiperrefleksia, dan suhu tubuh meningkat. Masalah terkait obat yang paling mungkin terjadi adalah:

 A. Sindrom serotonin akibat interaksi dextromethorphan dengan fluoxetine
 B. Sindrom antikolinergik akibat interaksi dextromethorphan dengan fluoxetine
 C. Sindrom neuroleptik maligna akibat interaksi kedua obat pada reseptor dopamin
 D. Krisis hipertensi akibat peningkatan aktivitas alfa-adrenergik kedua obat
 E. Toksisitas opioid akibat peningkatan aktivitas reseptor mu oleh fluoxetine

Jawaban: A.  Pembahasan: Kombinasi dextromethorphan dengan obat serotonergik seperti SSRI dapat meningkatkan risiko serotonin syndrome. Manifestasi seperti perubahan status mental/agitatif, hiperaktivitas otonom, tremor, dan hiperrefleksia mendukung diagnosis tersebut. Ini merupakan contoh penting bahwa obat batuk OTC tetap memerlukan pemeriksaan obat rutin pasien.

Soal 15 — Analisis

Seorang laki-laki 56 tahun datang dengan batuk selama 10 minggu. Batuk kadang disertai bercak darah pada sputum. Berat badan turun 6 kg dalam 2 bulan dan pasien sering berkeringat pada malam hari. Ia meminta dextromethorphan karena batuk mengganggu tidur. Tindakan apoteker yang tepat adalah:

 A. Memberikan dextromethorphan selama satu minggu dan mengevaluasi respons batuk pasien
 B. Memberikan guaifenesin untuk meningkatkan ekskresi sekret sebelum dilakukan pemeriksaan
 C. Memberikan asetilsistein karena hemoptisis menunjukkan sekret terlalu kental di bronkus
 D. Merujuk pasien untuk evaluasi penyebab serius dan tidak hanya memberikan terapi simptomatik
 E. Memberikan kodein karena batuk kronis memerlukan antitusif yang potensinya lebih kuat

Jawaban: D.  Pembahasan: Batuk >8 minggu merupakan batuk kronis. Pada kasus ini terdapat tanda peringatan berupa hemoptisis, penurunan berat badan, dan keringat malam. Di Indonesia, TB merupakan salah satu diagnosis penting yang perlu dipertimbangkan, selain keganasan dan penyebab serius lainnya. Pustaka yang digunakan, juga memasukkan TB sebagai etiologi batuk dan menekankan bahwa batuk akibat TB harus ditangani dengan terapi penyakit dasarnya, bukan sekadar antitusif.

Selain daftar Pustaka baca buku: Farmakoterapi I Dilengkapi 220 Soal CBT Sesuai Blueprint UKAI. Baca juga soal latihan Ukom: 1. Farmakoterapi Rasional dan Penggunaan Antibiotik dan 2. Farmakoterapi Common Cold dan Influenza

Daftar Pustaka 

1.     DiPiro JT, Yee GC, Haines ST, Nolin TD, Ellingrod VL, Posey LM, editors. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. 12th ed. New York: McGraw Hill; 2023.

2.     Brunton LL, Knollmann BC, editors. Goodman & Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics. 14th ed. New York: McGraw Hill; 2023.

3.     Malesker MA, Callahan-Lyon P, Ireland B, et al. Pharmacologic and Nonpharmacologic Treatment for Acute Cough Associated With the Common Cold: CHEST Expert Panel Report. Chest. 2017;152(5):1021–1037.

4.     Centers for Disease Control and Prevention. Outpatient Clinical Care for Adults: Antibiotic Prescribing and Use.

5.     U.S. Food and Drug Administration. FDA requires labeling changes for prescription opioid cough and cold medicines to limit their use to adults 18 years and older. 2018.