Persiapan Uji Kompetensi

Farmakoterapi Common Cold dan Influenza (Latihan Soal UKOM Apoteker)

By Tim Leskonfi
Journalist
September 12, 2026 • 5 min read
Farmakoterapi Common Cold dan Influenza (Latihan Soal UKOM Apoteker)
Photo by Unsplash

"Excerpt: Sedang mempersiapkan UKOM Apoteker? Uji kemampuan Anda melalui 20 latihan soal CBT farmakoterapi common cold dan influenza, lengkap dengan ku..."

Farmakoterapi Common Cold dan Influenza (Latihan Soal UKOM Apoteker)

Soal 1 — Recall

Seorang pasien dewasa datang ke apotek dengan hidung berair, bersin, tenggorokan tidak nyaman, dan batuk ringan sejak 2 hari. Pasien tidak mengalami sesak atau demam tinggi. Apoteker menjelaskan bahwa common cold umumnya bersifat self-limiting. Penyebab common cold yang paling sering adalah:

A. Streptococcus pneumoniae
B. Haemophilus influenzae
C. Rhinovirus
D. Virus influenza
E. Streptococcus pyogenes

Jawaban: C.  Pembahasan: Common cold merupakan infeksi virus akut saluran pernapasan atas dan rhinovirus merupakan penyebab tersering. Coronavirus musiman, adenovirus, RSV, dan virus lainnya juga dapat menyebabkan sindrom common cold. 

Soal 2 — Recall

Seorang pasien mengalami hidung tersumbat akibat common cold dan mendapat pseudoefedrin. Apoteker menjelaskan mekanisme kerja obat tersebut kepada pasien. Mekanisme utama pseudoefedrin dalam mengurangi kongesti hidung adalah:

 A. Menghambat reseptor H1 sehingga sekresi mukus berkurang
 B. Merangsang aktivitas adrenergik sehingga terjadi vasokonstriksi mukosa
 C. Menghambat siklooksigenase sehingga inflamasi mukosa berkurang
 D. Menghambat reseptor muskarinik sehingga refleks batuk berkurang
 E. Merangsang reseptor beta adrenergik sehingga bronkus mengalami dilatasi

Jawaban: B. Pembahasan: Pseudoefedrin merupakan simpatomimetik yang menghasilkan efek dekongestan terutama melalui aktivitas alfa-adrenergik dan vasokonstriksi pembuluh darah mukosa hidung, sehingga edema dan kongesti berkurang. Mekanisme dekongestan dalam materi Prof. juga dijelaskan melalui vasokonstriksi mukosa hidung. 

Soal 3 — Recall

Seorang pasien dewasa mengalami common cold disertai batuk kering yang cukup mengganggu. Dokter memilih dextromethorphan sebagai terapi simptomatik. Efek farmakologis utama dextromethorphan adalah:

 A. Meningkatkan sekresi mukus sehingga sputum lebih mudah dikeluarkan
 B. Menekan refleks batuk melalui kerja pada pusat batuk di sistem saraf pusat
 C. Menghambat reseptor histamin sehingga sekresi saluran napas berkurang
 D. Merangsang reseptor adrenergik sehingga edema mukosa hidung berkurang
 E. Menghambat sintesis prostaglandin sehingga inflamasi bronkus berkurang

Jawaban: B. Pembahasan: Dextromethorphan merupakan antitusif yang bekerja secara sentral dan dapat digunakan untuk batuk kering/nonproduktif pada orang dewasa. Banyak kepustakaan juga menempatkannya sebagai antitusif untuk batuk kering. Bukti efektivitas dextromethorphan pada batuk akibat common cold terbatas, tetapi pada sebagian pasien dewasa dapat memberikan perbaikan gejala yang relatif kecil. 

Soal 4 — Reasoning

Seorang laki-laki 32 tahun mengalami hidung tersumbat, rinorea, bersin, dan tenggorokan tidak nyaman selama 2 hari. Suhu 37,4°C dan tidak terdapat sesak napas. Pasien meminta amoksisilin karena merasa antibiotik akan mempercepat penyembuhan. Rekomendasi apoteker yang paling tepat adalah:

 A. Memberikan amoksisilin untuk mencegah berkembangnya infeksi bakteri sekunder
 B. Memberikan azitromisin karena durasi terapinya lebih singkat dibandingkan amoksisilin
 C. Tidak merekomendasikan antibiotik dan memberikan terapi simptomatik sesuai keluhan
 D. Memberikan sefiksim karena antibiotik spektrum luas lebih efektif untuk infeksi respirasi
 E. Memberikan doksisiklin karena dapat mengurangi inflamasi saluran napas akibat infeksi virus

Jawaban: C. Pembahasan: Common cold umumnya disebabkan virus, bersifat self-limiting, dan antibiotik tidak mempercepat penyembuhannya. Materi Prof. secara eksplisit menyatakan antibiotik tidak dianjurkan karena etiologinya viral. Antibiotik yang tidak diperlukan juga meningkatkan risiko efek samping dan resistensi antimikroba. 

Soal 5 — Reasoning

Seorang laki-laki 58 tahun dengan hipertensi tidak terkontrol datang ke apotek karena common cold disertai hidung tersumbat. Pasien ingin membeli obat yang mengandung pseudoefedrin. Tindakan apoteker yang tepat adalah:

 A. Merekomendasikan pseudoefedrin dosis lazim karena penggunaan jangka pendek relatif aman
 B. Merekomendasikan pseudoefedrin dengan dosis dua kali lebih rendah dari dosis dewasa
 C. Menghindari pseudoefedrin dan memilih penanganan lain yang lebih aman untuk kongesti
 D. Mengombinasikan pseudoefedrin dengan kafein agar efek dekongestan lebih cepat tercapai
 E. Mengombinasikan pseudoefedrin dengan antihistamin agar efek kardiovaskular dapat berkurang

Jawaban: C.  Pembahasan: Pseudoefedrin mempunyai aktivitas simpatomimetik dan dapat meningkatkan tekanan darah/denyut jantung. Pada hipertensi tidak terkontrol, penggunaannya sebaiknya dihindari atau memerlukan pertimbangan klinis yang sangat hati-hati. 

Soal 6 — Reasoning

Seorang perempuan 28 tahun mengalami common cold dengan nyeri kepala, nyeri tenggorokan, dan demam ringan. Ia tidak mempunyai penyakit penyerta dan tidak mengalami hidung tersumbat atau batuk yang mengganggu. Terapi farmakologis yang paling rasional adalah:

 A. Parasetamol untuk mengurangi nyeri dan demam sesuai kebutuhan
 B. Pseudoefedrin untuk mengurangi nyeri dan menurunkan suhu tubuh
 C. Dextromethorphan untuk mengurangi demam dan rasa tidak nyaman
 D. Klorfeniramin untuk mengurangi nyeri tenggorokan dan demam ringan
 E. Guaifenesin untuk mengurangi nyeri kepala dan mempercepat penyembuhan

Jawaban: A.  Pembahasan: Terapi common cold harus diarahkan pada gejala yang benar-benar dialami pasien, bukan memberikan seluruh komponen obat flu. Analgesik/antipiretik seperti parasetamol dapat digunakan untuk nyeri dan demam. Parasetamol sesuai sebagai terapi simptomatik. 

Soal 7 — Reasoning

Seorang laki-laki 30 tahun membeli obat flu kombinasi yang mengandung parasetamol 500 mg. Ia juga berencana menggunakan tablet parasetamol 500 mg yang tersedia di rumah karena mengalami nyeri kepala. Edukasi apoteker yang paling tepat adalah:

A. Menggunakan kedua produk karena parasetamol dalam obat flu mempunyai fungsi berbeda
 B. Memeriksa seluruh kandungan obat dan menghindari penggunaan ganda zat aktif yang sama
 C. Menggunakan kedua produk bergantian karena cara tersebut menghilangkan risiko overdosis
 D. Mengganti tablet parasetamol dengan ibuprofen dan menggunakan keduanya secara rutin
 E. Menambah dosis parasetamol tunggal karena obat kombinasi mempunyai absorpsi lebih rendah

Jawaban: B. Pembahasan: Banyak produk common cold merupakan fixed-dose combination. Apoteker perlu memastikan pasien tidak memperoleh duplikasi zat aktif, terutama parasetamol, yang dapat meningkatkan risiko overdosis. 

Soal 8 — Reasoning

Seorang perempuan 40 tahun mengalami common cold dengan bersin dan rinorea yang mengganggu terutama pada malam hari. Ia harus mengemudikan kendaraan pada pagi berikutnya dan mempertimbangkan menggunakan klorfeniramin. Informasi yang paling penting disampaikan apoteker adalah:

 A. Klorfeniramin dapat menyebabkan sedasi sehingga aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan perlu diperhatikan
 B. Klorfeniramin  menyebabkan hipertensi berat sehingga harus selalu dihindari pada orang dewasa
 C. Klorfeniramin  menyebabkan bronkospasme sehingga tidak dapat digunakan pada common cold
 D. Klorfeniramin dapat menyebabkan hipoglikemia sehingga penggunaannya harus selalu setelah makan
 E. Klorfeniramin dapat menyebabkan nefrotoksisitas sehingga fungsi ginjal harus diperiksa sebelum digunakan

Jawaban: A.  Pembahasan: Antihistamin sebagai monoterapi tidak menunjukkan manfaat klinis yang bermakna secara konsisten pada common cold; antihistamin generasi pertama dapat memberikan perbaikan gejala yang terbatas, tetapi harus dipertimbangkan terhadap efek samping seperti sedasi dan efek antikolinergik. 

Soal 9 — Analisis

Seorang laki-laki 67 tahun dengan hipertensi, benign prostatic hyperplasia (BPH), dan glaukoma datang karena common cold. Keluhan utama berupa hidung tersumbat dan rinorea. Pasien meminta obat kombinasi yang mengandung pseudoefedrin dan klorfeniramin. Penilaian apoteker yang tepat adalah:

 A. Kombinasi dapat digunakan karena kedua obat mempunyai mekanisme berbeda dan saling menetralkan efek samping
 B. Kombinasi perlu dihindari karena pseudoefedrin dan efek antikolinergik klorfeniramin dapat memperburuk komorbiditas
 C. Kombinasi dapat digunakan dengan dosis maksimal karena pasien lansia mempunyai absorpsi obat yang lebih rendah
 D. Kombinasi perlu ditambah dextromethorphan agar risiko retensi urine dan peningkatan tekanan darah berkurang
 E. Kombinasi perlu ditambah guaifenesin agar efek antikolinergik dan adrenergik kedua obat dapat dinetralkan

Jawaban: B. Pembahasan: Kasus ini memerlukan integrasi beberapa faktor. Pseudoefedrin dapat menjadi masalah pada hipertensi dan dapat memperburuk gejala saluran kemih pada BPH, sedangkan antihistamin generasi pertama mempunyai efek antikolinergik yang dapat meningkatkan risiko retensi urine serta efek antikolinergik antihistamin generasi pertama perlu diwaspadai terutama pada pasien dengan glaukoma sudut tertutup dan BPH/retensi urin. Pemilihan terapi OTC harus mempertimbangkan komorbiditas, bukan hanya gejala common cold.

Soal 10 — Analisis

Seorang perempuan 35 tahun datang ke apotek dengan keluhan pilek yang awalnya membaik setelah 5 hari. Pada hari ke-8 keluhan kembali memburuk disertai demam 39°C, nyeri wajah berat, sekret hidung purulen, dan sakit kepala. Pasien meminta obat flu yang sama seperti sebelumnya. Tindakan apoteker yang tepat adalah:

 A. Melanjutkan swamedikasi karena seluruh common cold dapat berlangsung lebih dari dua minggu
 B. Menambahkan pseudoefedrin dosis tinggi karena gejala menunjukkan kongesti hidung semakin berat
 C. Merujuk pasien untuk evaluasi medis karena pola gejala mengarah pada diagnosis selain common cold sederhana
 D. Menambahkan antihistamin generasi pertama karena sekret purulen menunjukkan reaksi histamin yang lebih berat
 E. Memberikan antibiotik secara langsung karena perubahan warna sekret memastikan adanya infeksi bakteri

Jawaban: C. Pembahasan: Perburukan setelah sempat membaik (double worsening), disertai demam tinggi dan nyeri wajah berat merupakan tanda peringatan yang memerlukan evaluasi medis lebih lanjut, termasuk kemungkinan acute bacterial rhinosinusitis. 

Soal 11 — Recall

Seorang pasien dewasa didiagnosis influenza dan mendapat oseltamivir. Apoteker menjelaskan bahwa obat tersebut aktif terhadap virus influenza A dan B. Mekanisme kerja oseltamivir yang tepat adalah:

 A. Menghambat neuraminidase sehingga pelepasan virus baru dari sel inang berkurang
 B. Menghambat endonuklease sehingga proses transkripsi RNA virus tidak berlangsung
 C. Menghambat sintesis protein virus dengan berikatan pada subunit ribosom sel inang
 D. Menghambat hemaglutinin sehingga penetrasi seluruh virus ke dalam sel dapat dicegah
 E. Menghambat DNA polimerase sehingga replikasi materi genetik virus dapat dihentikan

Jawaban: A.  Pembahasan: Oseltamivir merupakan neuraminidase inhibitor yang aktif terhadap influenza A dan B. Hambatan neuraminidase mengganggu pelepasan virion baru dari sel yang terinfeksi sehingga penyebaran virus berkurang. 

Soal 12 — Recall

Seorang pasien mendapat baloxavir marboxil untuk influenza akut tanpa komplikasi. Apoteker menjelaskan mekanisme kerja obat tersebut kepada pasien. Mekanisme kerja baloxavir yang tepat adalah:

 A. Menghambat neuraminidase sehingga pelepasan virus dari sel inang terhambat
 B. Menghambat cap-dependent endonuclease sehingga transkripsi RNA virus terganggu
 C. Menghambat reseptor asam sialat sehingga virus tidak dapat melekat pada epitel
 D. Menghambat sintesis prostaglandin sehingga respons inflamasi akibat virus berkurang
 E. Menghambat kanal proton virus sehingga proses pelepasan RNA virus dapat dicegah

Jawaban: B. Pembahasan: Baloxavir menghambat cap-dependent endonuclease pada kompleks polimerase virus influenza, sehingga proses transkripsi RNA virus terganggu. Berbeda dengan oseltamivir, baloxavir bukan neuraminidase inhibitor. 

Soal 13 — Recall

Seorang laki-laki 30 tahun dengan influenza tanpa komplikasi mendapat oseltamivir. Fungsi ginjal normal dan tidak terdapat kondisi khusus yang memerlukan perubahan regimen. Regimen oseltamivir yang lazim untuk terapi influenza pada pasien dewasa tersebut adalah:

 A. 75 mg sekali sehari selama 5 hari
 B. 75 mg dua kali sehari selama 5 hari
 C. 150 mg sekali sehari selama 3 hari
 D. 150 mg dua kali sehari selama 5 hari
 E. 300 mg sekali sehari selama 1 hari

Jawaban: B. Pembahasan: Regimen terapi influenza akut pada dewasa dengan fungsi ginjal normal adalah oseltamivir 75 mg dua kali sehari selama 5 hari. Dosis perlu disesuaikan pada gangguan ginjal tertentu. 

Soal 14 — Reasoning

Seorang perempuan 27 tahun datang ke dokter dengan demam 39°C, menggigil, mialgia, sakit kepala, dan batuk kering sejak 24 jam. Influenza sedang banyak ditemukan di masyarakat. Pasien sehat, tidak hamil, dan tidak mempunyai komorbiditas. Pilihan terapi yang rasional adalah:

 A. Oseltamivir dapat dipertimbangkan karena gejala baru berlangsung kurang dari 48 jam
 B. Oseltamivir harus ditunda sampai pemeriksaan laboratorium memastikan influenza tipe A
 C. Amoksisilin diberikan segera untuk mencegah terjadinya pneumonia bakterial sekunder
 D. Oseltamivir baru diberikan bila gejala tidak membaik setelah berlangsung selama lima hari
 E. Azitromisin diberikan bersama antipiretik karena demam tinggi menunjukkan infeksi bakteri

Jawaban: A.  Pembahasan: Pada pasien rawat jalan yang sebelumnya sehat dengan influenza tanpa komplikasi, antivirus dapat dipertimbangkan berdasarkan pertimbangan klinis bila dapat dimulai dalam 48 jam. Manfaat terbesar diperoleh bila terapi dimulai sedini mungkin. Pada pasien sehat dengan penyakit ringan, antivirus tidak selalu wajib. 

Soal 15 — Reasoning

Seorang perempuan hamil 24 minggu mengalami demam, mialgia, sakit kepala, dan batuk sejak 36 jam. Dokter mencurigai influenza berdasarkan gambaran klinis dan epidemiologi setempat. Rekomendasi antivirus yang paling tepat adalah:

 A. Oseltamivir oral diberikan sesegera mungkin tanpa menunggu konfirmasi laboratorium
 B. Baloxavir oral diberikan karena dosis tunggal memberikan paparan obat yang lebih singkat
 C. Zanamivir inhalasi diprioritaskan karena pemberian lokal menghilangkan paparan pada janin
 D. Peramivir IV diprioritaskan karena semua influenza pada kehamilan memerlukan terapi IV
 E. Antivirus ditunda sampai hasil pemeriksaan influenza positif untuk mengurangi paparan janin

Jawaban: A. Pembahasan: Kehamilan merupakan kondisi yang meningkatkan risiko komplikasi influenza. Oseltamivir oral merupakan antivirus pilihan selama kehamilan dan terapi influenza yang dicurigai atau terkonfirmasi sebaiknya dimulai segera tanpa menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Baloxavir tidak direkomendasikan pada kehamilan karena data keamanan dan efektivitas belum memadai. 

Soal 16 — Reasoning

Seorang laki-laki 35 tahun dengan riwayat asma mengalami influenza tanpa komplikasi sejak 24 jam. Dokter mempertimbangkan penggunaan zanamivir inhalasi. Masalah terkait obat yang paling penting dipertimbangkan apoteker adalah:

 A. Zanamivir dapat menyebabkan bronkospasme sehingga tidak direkomendasikan pada pasien asma
 B. Zanamivir dapat menyebabkan nefrotoksisitas sehingga tidak direkomendasikan pada pasien asma
 C. Zanamivir dapat menyebabkan hiperglikemia sehingga memperburuk inflamasi bronkus pasien
 D. Zanamivir dapat menyebabkan retensi cairan sehingga meningkatkan obstruksi jalan napas pasien
 E. Zanamivir dapat menyebabkan hipertensi sehingga meningkatkan frekuensi eksaserbasi asma

Jawaban: A. Pembahasan: Zanamivir diberikan melalui inhalasi dan mempunyai risiko bronkospasme, terutama pada pasien dengan penyakit saluran napas seperti asma atau COPD. Oleh karena itu, pilihan antivirus lain seperti oseltamivir lebih sesuai bila antivirus diindikasikan. 

Soal 17 — Reasoning

Seorang laki-laki 68 tahun dengan diabetes dan penyakit jantung mengalami demam, batuk, mialgia, dan lemah sejak 3 hari. Dokter mencurigai influenza. Pasien belum menunjukkan tanda pneumonia dan tidak memerlukan rawat inap. Tindakan farmakoterapeutik yang tepat adalah:

 A. Tidak memberikan antivirus karena onset gejala telah melewati 48 jam
 B. Memulai oseltamivir sesegera mungkin karena pasien berisiko tinggi mengalami komplikasi
 C. Memberikan antibiotik spektrum luas karena pasien berusia lebih dari 65 tahun
 D. Memberikan terapi simptomatik saja karena antivirus hanya efektif sebelum 48 jam
 E. Menunggu hasil pemeriksaan influenza sebelum menentukan kebutuhan terapi antivirus

Jawaban: B. Pembahasan: Batas 48 jam bukan alasan untuk menahan antivirus pada pasien berisiko tinggi. Pasien usia ≥65 tahun dengan diabetes dan penyakit jantung mempunyai risiko komplikasi influenza lebih tinggi. Antivirus dianjurkan dimulai sesegera mungkin, bahkan ketika pasien datang >48 jam setelah onset. 

Soal 18 — Reasoning

Seorang anak berusia 12 tahun mengalami influenza disertai demam dan nyeri kepala. Orang tua ingin memberikan aspirin karena obat tersebut tersedia di rumah. Edukasi apoteker yang tepat adalah:

 A. Aspirin dapat digunakan selama dosisnya disesuaikan dengan berat badan anak
 B. Aspirin sebaiknya dihindari karena berhubungan dengan risiko sindrom Reye
 C. Aspirin dapat diberikan bersama ibuprofen untuk meningkatkan efek antipiretik
 D. Aspirin sebaiknya diberikan setelah makan untuk mencegah sindrom Reye pada anak
 E. Aspirin dapat digunakan bila demam berlangsung kurang dari tiga hari tanpa komplikasi

Jawaban: B. Pembahasan: Aspirin/salisilat sebaiknya dihindari pada anak dan remaja dengan influenza karena hubungannya dengan sindrom Reye, kondisi langka tetapi serius yang dapat menyebabkan ensefalopati dan gangguan hati. 

Soal 19 — Analisis

Seorang laki-laki 72 tahun dengan CKD mengalami influenza dan mendapat oseltamivir 75 mg dua kali sehari. Hasil laboratorium menunjukkan CrCl 25 mL/menit. Setelah beberapa dosis, pasien mengalami mual dan muntah. Apoteker melakukan evaluasi terapi. Tindakan yang tepat adalah:

 A. Mengevaluasi fungsi ginjal dan menyesuaikan regimen oseltamivir berdasarkan klirens ginjal
 B. Meningkatkan dosis oseltamivir karena CKD menurunkan absorpsi antivirus dari saluran cerna
 C. Mengganti oseltamivir dengan zanamivir tanpa mempertimbangkan kondisi respirasi pasien
 D. Menghentikan antivirus karena seluruh pasien CKD tidak dapat menggunakan oseltamivir
 E. Menambahkan baloxavir agar dosis oseltamivir tidak perlu disesuaikan dengan fungsi ginjal

Jawaban: A.  Pembahasan: Oseltamivir dan metabolit aktifnya terutama dieliminasi melalui ginjal sehingga penyesuaian dosis diperlukan pada penurunan klirens kreatinin tertentu. Mual dan muntah juga merupakan efek samping yang umum. Apoteker perlu menilai regimen berdasarkan derajat gangguan ginjal, bukan otomatis menghentikan obat. 

Soal 20 — Analisis

Seorang laki-laki 64 tahun dirawat dengan influenza berat. Oseltamivir empiris telah dimulai. Pada hari ketiga, pasien yang sebelumnya relatif stabil mengalami demam kembali, sesak bertambah, sputum purulen, dan infiltrat baru pada radiografi dada. Dokter mencurigai pneumonia bakteri sekunder. Tindakan farmakoterapeutik yang rasional adalah:

 A. Menghentikan oseltamivir dan menggantinya dengan obat simptomatik karena influenza sudah diterapi
 B. Melanjutkan penatalaksanaan influenza dan mengevaluasi kebutuhan antibiotik untuk pneumonia sekunder
 C. Meningkatkan dosis oseltamivir tanpa mengevaluasi kemungkinan infeksi bakteri pada pasien
 D. Menambahkan baloxavir untuk menggantikan antibiotik karena kedua infeksi berasal dari saluran napas
 E. Menghentikan seluruh antivirus dan antibiotik sampai kultur bakteri memberikan hasil definitif

Jawaban: B.  Pembahasan: Influenza dapat mengalami komplikasi pneumonia bakteri sekunder. Perburukan setelah sempat stabil/membaik, demam kembali, sputum purulen, dan infiltrat baru mendukung perlunya evaluasi infeksi bakteri. Antibiotik tidak digunakan untuk influenza virus itu sendiri, tetapi dapat diindikasikan bila terdapat infeksi bakteri sekunder. 

Untuk Lebih Memahami Soal-Soal di atas, baca buku: Farmakoterapi I Dilengkapi 220 Soal CBT Sesuai Blueprint UKAI

Baca juga Latihan Soal yang lain, Misalnya: 1. Farmakoterapi Rasional dan Penggunaan Antibiotik  dan 2. Farmakoterapi Batuk dan Antitusif

Daftar Pustaka 

1.     DiPiro JT, Yee GC, Haines ST, Nolin TD, Ellingrod VL, Posey LM, editors. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. 12th ed. New York: McGraw Hill; 2023.

2.     Brunton LL, Knollmann BC, editors. Goodman & Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics. 14th ed. New York: McGraw Hill; 2023.

3.     Centers for Disease Control and Prevention. Influenza Antiviral Medications: Summary for Clinicians. Updated March 10, 2026.

4.     Centers for Disease Control and Prevention. Manage Common Cold. Updated March 11, 2026.